Tuesday, June 02, 2015

In a Flirtationship

Coba hitung sudah berapa lama kita bersama, sudah berapa lembar cerita jika kutuliskan satu per satu?

Tapi kita apa, masih bukan apa-apa, kan?
Dan kamu pelan-pelan mundur setelah membiarkanku maju.

Pada minggu malam itu aku sudah tidak tahan dengan celoteh nakalmu, kamu seperti ingin aku, aku pun begitu. Kamu hampir menyatakannya, tapi kemudian kamu lebih ingin bertemu terlebih dahulu.

Aku menunggu. Tapi aku lupa kalau senin mampu mengendalikan waktu. Waktu berputar sangat cepat sampai kita tidak sempat bertemu, sama sekali.

Setelah itu dua kali kamu mengirimi pesan saat aku sudah terlelap, jadi kamis pagi ini kupakai baju yang pernah kamu anggap cantik, dengan harapan pernyataan yang sudah lama kutunggu itu bisa terealisasi dengan baju terbaik. Tapi ternyata belum ditakdirkan begitu.

Aku tidak menyerah, pada Jumat sore aku sengaja duduk tidak jauh didekatmu. Kamu sibuk dengan ponselmu. Aku menaikan volume suaraku agar bisa mengalihkan perhatianmu atau menyadari keberadaanku kemudian menoleh dan menyapaku, setidaknya begitu. Tapi dua jam berlalu tidak ada reaksi dari kamu sampai akhirnya aku berlalu dibelakangmu, pulang tanpa membawa kisah apa-apa.

Kubaca kembali percakapan kita, "kegeerankah aku?"

Setelah itu tidak ada kabar dari kamu, sedangkan aku mana berani memulainya. Padahal aku menunggu dan membaca percakapan kita sampai hanyut kembali kedalamnya. Jadi kuputuskan untuk membuang egoku dan segera memulai kembali percakapan kita, mungkin ini giliranku.

Tapi semuanya sia-sia, kamu malah bersikap seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.

Haha. Lucu sekali permainanmu. Bagaimana caranya seperti itu?