Thursday, May 14, 2015

Kisah Pertama

Sudah beberapa hari ini gadis yang akan segera melepas seragam putih-merahnya dirundung gelisah, belum pernah ia merasa sepenasaran ini terhadap lawan jenisnya. Gadis itu mengenal laki-laki yang menjadi teman sekelasnya sejak dua tahun lalu, waktu itu mereka mendapat giliran duduk bersama dan saling berbagi cerita sampai ditemukannya titik nyaman diantara keduanya. Mereka jadi sering menghabiskan waktu berdua. Mereka bilang mereka bersahabat, tapi ada rasa ingin memiliki lebih dari sekedar sahabat, katanya.

Saat gadis kecil itu bertanya pada teman sebayanya, ‘perasaan nyaman apa ini’, dengan polosnya gadis yang menjadi temannya menjawab, “itu berarti lu cinta sama dia dan kalian harus pacaran”.

Gadis itu bingung, sudah cukupkah umurnya untuk berpacaran? Lalu gadis itu bertanya pada ibunya dan jawabannya sesuai dugaannya, “Anak kecil pacar-pacaran, belajar dulu sana!”

“Kata mama gue, gue gak boleh pacaran katanya masih kecil” gadis itu tertunduk sedih mencurahkan perasaannya pada teman karibnya itu. Temannya sudah pasti merasa iba dan selalu ada dipihaknya, “yaudah kalian pacarannya jangan bilang siapa-siapa”. Senyum gadis itu mulai terbit setelah seharian mendung, “Caranya pacaran gimana?”. Keduanya tertegun.

Pikiran dua bocah itu malah semakin semrawut diantara pikiran-pikiran kusut ujian pra-Ujian Nasional, dan pikiran yang menambah kekusutannya adalah pikiran yang belum saatnya mereka pikirkan.

Suatu malam, saat gadis kecil itu berusaha mencerna ilmu pelajaran tiba-tiba temannya mengirimi SMS membuyarkan ilmu yang mestinya tersimpan. “Gue udah nanya sama dia, katanya dia mau lo nembak dia, nanti kalian pacaran deh” Gadis itu melongo membaca SMS dari temannya, masak iya cewek nembak cowok. Lalu ia malah meliburkan kegiatan belajarnya malam ini, dan asyik membayangkan bagaimana jadinya kalau mereka benar-benar berpacaran.

Entah apa gunanya memikirkan segala khayalannya. Belum tentu yang mereka gembar-gemborkan akan menjadi milik mereka seutuhnya dikemudian hari. Sayangnya tak ada yang mengetahui dan melarangnya, biarpun akan jadi pengalamannya tapi kisah yang seperti ini sudah seharusnya jangan sampai terjadi pada gadis-gadis seusianya.

Back to 140507

Saturday, May 09, 2015

Titik Temu

Malam inipun percakapan kita terputus begitu saja dengan tertidurnya kamu. Ya sudah, mungkin kamu lelah.

Aku mencoba mengerti dengan segala rutinitas padatmu, tetap konsisten mengingatkan makanmu, menyuruhmu beristirahat meskipun kamu berdalih kamu bisa menjaga tubuhmu. Akhir-akhir ini semuanya tentang kamu, tidak ada lagi tentang aku, sedang apakah aku, bagaimana hariku. Aku paham segala ambisimu, jadi aku tidak ingin mengacaukannya.

Tapi minggu ini berbeda, lambat laun segala pengertian dan perhatianku dirasa percuma dengan terlibatnya emosimu diantara percakapan basi kita, minggu ini semakin berbeda dengan timbal balik yang kudapat justru bukan dari kamu.

Setiap pikiranku tergelitik dengan pengkhianatanku, tiba-tiba aku teringat janji kita kemudian menepis segalanya dan kamu penuh dipikiranku. Kamu selalu memadati pikiranku di antara aktifitasku, terutama bagian saat kita tertawa. Lalu aku tertawa sendiri.

Aku ingat bagaimana kamu ingin aku, waktu dan materi jadi korbannya, kendaraanmu jadi saksinya. Dari aku yang angkuh, mulai tersenyum malu, manggut-manggut, hingga akhirnya aku jemu. Tidak ada lagi upaya meyakinkanku seperti dulu. Aku sendiri tidak tau bagaimana memperjuangkanmu.

Jika ada yang salah dengan kita katakan saja, walaupun aku tidak bisa apa-apa setidaknya aku tahu kamu tidak apa-apa.

Dari aku yang menyelipkan kamu didoaku.

Friday, May 01, 2015

Membuka Kotak Pandora

Selamat malam, saya punya cerita yang hampir tidak terungkap, dan malam ini akan saya ceritakan. Mungkin akan jadi cerita yang panjang, jadi siapkan saja cemilannya.

Cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan saya, tapi berantai dengan sendirinya di ruang lingkup mereka, saya hanya sebagai saksi, saksi bisu lebih tepatnya. Hanya mendengarkan, hanya menyaksikan, tidak bisa berbuat apa-apa.

Cerita dimulai dengan persahabatan saya dengan Sara waktu SD, dan bagaimana akrabnya persahabatan saya dengan Rena di SMP. Cerita ini berlatar sewaktu saya SMA dimana waktu itu saya cukup akrab dengan senior saya bernama Sammy, akrab sebagai penengah cerita di antara Sara, Rena, dan Sammy.

Saya terlebih dahulu mendengar cerita Rena yang mulai “dekat” dengan Sammy. Saya menjadi pendengar setia keluh-kesahnya tentang Sammy. Tapi Sammy mengulur saja.

Karena Sammy berprinsip untuk tidak berhubungan dengan siapapun. Walaupun saya tau dalam hati ia memendam rasa untuk Rena, juga untuk Sara.

Beberapa kali saya mendengar cerita tentang Sara dan Sammy, sampai akhirnya Sara malah berpaling ke Bert, sahabat Sammy. Dan saya hampir tidak pernah tau bagaimana perasaan Bert.

Mereka berantai begitu saja. Rena menyukai Sammy, Sammy menyukai Rena. Sara menyukai Sammy, Sammy menyukai Sara. Lalu Sara menyukai Bert. Begitu intinya jika diperjelas.

Sampai akhirnya Rena menyerah dan menyibukkan diri. Sampai akhirnya Sara menyerah dan mencari yang lebih baik lagi.

Hari ini tepat empat tahun cerita mereka masih tertutup rapat, dibiarkan terkunci.

Rena sudah jadi orang hebat sekarang, hampir tidak ada waktu untuk kita bertegur sapa, membuat janji pun belum tentu akan terealisasi. Rena masih sendiri, padahal banyak hati yang berusaha memenangkannya.

Sara benar-benar menemukan orang lain yang menurutnya lebih baik dan menganggap masa lalu adalah masa lalu.

Bert masih sama, menebak emosinya saja saya tidak bisa.

Sammy? Justru mempertanyakannya setelah empat tahun kisah ini ada.

Jadi bagaimana? Biarkan terkunci atau kita buka saja perlahan-lahan?