Saturday, March 28, 2015

Kolam Renang Buatan

Tiga gadis kecil itu tertawa riang menatap satu sama lain, mereka membayangkan rencana mereka sore nanti akan berjalan dengan sempurna. Mereka berusia tujuh, tujuh, dan lima. Yang berusia tujuhlah yang merencanakan semua ini, mereka berdua memang selalu kompak, sementara yang berusia lima justru paling bahagia saat diberitahu rencana nakal tersebut. "Jangan bilang siapa-siapa" ancam kedua anak berusia tujuh pada anak berusia lima.

Hubungan di antara mereka adalah sepupu, sebut saja mereka Ai, Vinna, dan Ean. Ketiganya perempuan. Kedua orangtua mereka sibuk bekerja sehingga setiap hari mereka menghabiskan hari dirumah kakek-nenek. Rumah kakek-nenek mereka memang terbilang besar, dibagian depan rumah malah dibuat sebuah toko bunga. Dan bagian rumah yang akan mereka tuju adalah kamar mandi.

Kamar mandi rumah kakek-nenek terdapat sebuah kolam penampungan air yang besar, yang mirip dengan kolam berenang, mereka bertiga penasaran ingin berenang didalamnya, walaupun minggu lalu mereka sudah mengunjungi kolam wisata air, justru mereka jadi ketagihan ingin berenang lagi, di kolam yang berbeda.

Ai memeriksa air kamar mandi, setelah airnya ia rasa cukup ia segera menyuruh Ean untuk mengambil sebuah bangku kecil agar mereka bisa masuk ke dalam kolam itu. Ketinggian air mencapai pinggang Ai dan Vinna, dan mencapai dada Ean. Mereka bertiga bergembira mengecipakan air satu sama lain.

Awalnya tidak ada yang curiga dengan apa yang mereka lakukan sampai akhirnya suara adzan maghrib mulai berkumandang dan mereka bertiga belum juga keluar dari kolam. Ibu Ean mengetuk pintu beberapa kali, sebenarnya mereka bisa saja keluar saat Ibu Ean belum terdengar marah, tapi bagaimana jadinya kalau mereka menyisakan keadaan air yang sangat keruh karena Vinna dan Ean memakai sampo didalam air. Ai dan Vinna segera menguras air yang keruh itu agar tidak ketahuan.

Tiba-tiba engsel pintu yang mulai rapuh itu copot dan pintu terbuka. “KALIAN NGAPAIIIIIIN?” Ibu Ean masuk dan agak terpeleset sedikit di lantai yang sangat licin karena ulah mereka, “LANTAI SAMPAI LICIN BEGINI, AYO KELUAR NANTI MASUK ANGIN”

Mereka bertiga mulai menangis sambil mengeringkan badannya, Ibu Ean akhirnya tau apa yang mereka lakukan, sama seperti yang pernah ia dan kedua kakaknya lakukan dulu. Entah ia ingin memarahi tiga bocah ini atau membiarkannya saja, seingatnya, ayahnya waktu itu marah besar dan baru ia sadari kalau permainan yang pernah dilakukannya memang membahayakan, tapi sangat menyenangkan.

Kemudian Ibu Ean tersenyum, ’biar sajalah, biar jadi cerita masa kecil mereka’ katanya dalam hati sambil mengusap minyak penghangat tubuh ketiganya yang masih menangis sesenggukan, “Udah jangan menangis, gak apa-apa, tapi yang kalian lakuin itu bahaya, kalian bisa saja jatuh terpeleset, kalian mau berenang? Kan minggu lalu udah berenang? Air, sabun dan sampo kalian buang percuma, itu namanya pemborosan”

Setelah itu ketiganya mulai tertawa lagi entah apa sebabnya.

Masa kecil memang indah, ya?

Saturday, March 14, 2015

Menempati Posisinya

Hari ini aku menemanimu melepas penat, berkeliling memandang langit juga merasakan tiupan angin.

Selama diperjalanan, satu per satu cerita kamu tuturkan tentang dia. Kamu mengingat semuanya. Seluruhnya tidak berurutan, tapi tergambar jelas betapa kamu mengenangnya, sampai aku bisa membayangkannya dengan jelas bagaimana kronologinya.

Semuanya tentang dia yang kamu sayangi. Kamu bilang dia juaranya. Dia sempurna.

Kamu menyebutkan hobby-nya. Kamu menceritakan soal makanan kesukaannya; bagaimana seleranya soal makanan tertentu, dan apa yang ia pilih pada menu minuman. Kemudian kamu menuturkan tentang pakaian dan aksesori yang biasa dipakainya. Sebegitu detail ingatanmu tentang dia, padahal kamu bilang kamu benci pelajaran Sejarah.

Setelah berkeliling ibukota tanpa arah kamu menyebutkan tempat-tempat yang biasa kalian datangi, juga ada cerita apa saja didalamnya.

Kadang kamu bertanya soal aku, kemudian aku juga bercerita tentangku dan kehidupanku, tapi ditengah ceritaku ternyata beberapa serupa dengan cerita kalian, jadi kamu akan bercerita lagi soal dia.

Kalau saja perempuan itu aku, ya?

Hehehe, aku tidak apa-apa mendengar kisahmu.

Iya aku tidak apa-apa, justru aku semakin ingin kamu, aku jadi berandai kalau suatu hari kamu bisa meyayangiku mungkin aku bisa diperlakukan seperti ini, begitu kan?

Eh tapi, mana mungkin.
Semua tak sama, kan ya?