Sunday, October 18, 2015

The Way You Lie

Aku hampir frustasi memikirkan cara apa yang paling jitu untuk meyakinkan diri bahwa kamu satu-satunya, dan aku pun demikian. Tapi segala upaya yang telah kuberi rasanya belum cukup dengan apa yang kau usahakan. Aku masih berusaha keras membahagiakanmu. Melihatmu tersenyum.

Mungkin kamu ingin kesana, pikirku. Tapi disana berbahaya. Ada energi negatif yang memengaruhi manusia yang berani pergi kesana. Tidak akan bisa kembali, katanya, meskipun sudah benar-benar kembali.

Setiap bertemu denganmu, aku yakin kamu ingin kesana. Jadi aku memantapkan diri untuk menggiringmu kesana.

Kita mempersiapkan segalanya secara matang, atau kupikir secara mendadak. Aku mengupayakanmu. Yang penting kamu bahagia, pikirku. Dan hanya itu yang terpikirkan. Satu-satunya cara agar aku sendiri yakin kalau kamu milikku, utuh.

Akhirnya kita tiba disana, tempat yang kau idam-idamkan, yang aku sakralkan. Kita sama-sama terpukau dengan keindahan alamnya. Pegunungannya, gelombang pasangnya, suara gemericik airnya.
Aku sangat berharap kamu bahagia untuk ini. Aku juga berharap bisa bahagia melihatmu bahagia.

Kemudian aku lihat kamu bahagia, dan terus meronta agar kita bisa kesana lagi. Menceritakan kembali bagaimana keadaan disana. Membayangkan kembali jika kita kesana. Dan semua terus berlanjut berapa kalipun kita pergi kesana. Tidak ada bosannya kau mengkhayalkannya. Kamu bilang aku juara. Aku yang terhebat, Aku yang pertama.

Aku tidak akan lupa bagaimana ekspresimu saat kau tenggelam didalamnya. Terapung terombang-ambing dalam ombak besarnya. Entah bagaimana aku bahagia melihatnya.

Sampai ketika suatu hari kuketahui kalau ternyata bukan hanya aku yang menemanimu kesana. Bukan aku yang jadi pertama. Bukan aku yang jadi satu-satunya. Masihkah harus aku berupaya membahagiakanmu sementara bagian inilah yang kupikir paling mengecewakanku?

Just gonna stand there and watch me burn
But that's alright because I like the way it hurts.
Just gonna stand there and hear me cry
But that's alright because I love the way you lie. . .

I hope I can forgive, and forget.
08/10/15

Saturday, October 10, 2015

Foot Protector

Laptop rusak lagi sementara tugas harus dikumpul besok, tidak ada toleransi.

P A N I K.

Kemudian kamu menelpon, bertanya, "bisa kita ketemu sekarang?"
Kamu ingin meminjamkan laptop, sambil minum kopi.

Aku mengangguk, kamu tidak akan melihatnya, tapi kamu segera menutup teleponya, dan beberapa menit kemudian sudah didepan rumah untuk menjemput.

Aku memesan minuman sementara kamu menyiapkan laptopmu.

Lalu aku mulai mengerjakan tugasku. Sekarang pandanganku fokus pada tugas dan mulai mengabaikanmu. Sesekali kamu melihat kearahku, ke tugasku, sibuk dengan ponselmu, dan yang tidak sempat aku perhatikan.

Waktu menunjukkan pukul 11. Tugas sudah selesai tapi aku harus menunggu revisi terlebih dahulu sebelum menganggapnya benar-benar selesai. Setidaknya aku bisa bernapas lega.

Tapi,

Aku mulai menggaruk-garuk kakiku yang sangat gatal.
Ternyata banyak sekali nyamuk disini. Walaupun mengenakan celana panjang, tapi aku datang dengan sendal.

Kamu tertawa melihatku gatal-gatal.
Aku hanya menggerutu sambil mengecek kotak emailku, dan garuk-garuk tentunya.

Kamu mencari sesuatu dalam ranselmu.
Bukan mencari, tapi mengeluarkan seluruh isinya.

"Kamu ngapain?" tanyaku.

Kamu melepas sendalku, memasukan kedua kakiku kedalam ransel.
Dan memastikan kalau tidak akan ada nyamuk yang bisa masuk kedalamnya.

"Sekarang udah gak gatal lagi kan? Jadi bisa ngerjain lagi tugasnya"

Thursday, July 30, 2015

Adore You

Aku mengeja huruf pada papan namamu. Begitulah aku menemukan namamu dan jadi senang mengejanya kapanpun aku mau. Aku senang tuhan menciptakan hampir seluruh manusia tidak bisa membaca pikiran, jadi aku tidak perlu khawatir kamu tahu perasaanku, walaupun ada sedikit cemas bagaimana kamu ke aku.

Aku bersikap sewajarnya dihadapanmu, dan berubah seratus delapan puluh derajat dibelakangmu.

Hari ini kamu pakai sepatu biru, kemarin kamu pakai sepatu hitam. Eh sepatu merahmu ini beli disitu ya.
Hari ini kamu pakai parka warna biru, padahal biasanya kamu lebih sering pakai jaket abu-abumu. Oiya kemana jaket jeansmu. Ah aku hafal jaket-jaketmu.

Oh jadi hari ini kamu pakai motor baru ya? Eh tapi tidak terlihat seperti motor baru, motor siapa yang kamu pakai hari ini?

Jumat lalu aku menebak-nebak dimana rumahmu, aku ingat alamat yang kamu tulis di biodata kelas kita, kemudian mencoba mencarinya sambil berdalih ingin jalan-jalan sore. Aku membayangkan bagaimana kalau bertemu denganmu, bagaimana jika tanpa sengaja bertemu keluargamu tapi bagaimana kalau menemukan atap rumahmu saja aku tidak bisa.

Aku senang diam-diam, aku tidak ingin sama sekali kamu tahu. Walaupun tetap saja aku mau kamu. Tapi dengan diam-diam seperti ini justru aku merasa memilikimu.

Kemudian aku tahu ada yang suka padamu, dan kamu juga suka padanya. Lalu apalah aku yang hanya bisa diam-diam?

Wednesday, July 22, 2015

He Always Around Me, He Loves Me

Ujian akhir semester pada mata kuliah Audio Visual kemarin, saya bersama kelompok saya ditugaskan untuk membuat film pendek. Setelah beberapa kali mengalami revisi cerita akhirnya kelompok kami dapat memilih cerita ini. Selamat menonton!



Entah kenapa akhir-akhir ini saya senang membaca atau menulis cerita tentang gangguan psikologi seseorang. Jadi cerita yang saya buat ini mengenai penyakit kejiwaan, Erotomania. Cerita ini pernah saya ikut sertakan pada lomba, tapi karena kalah jadi saya buat dalam sebuah film pendek, walaupun mengalami banyak perbaikan oleh anggota kelompok dan dosen saya.

Sinopsis:
Bercerita tentang seorang gadis bernama Putri (Mutiara Ainy) yang tengah kasmaran dengan seorang laki-laki bernama Gilang (Damar Fitriana). Tapi kebahagiaan Putri tidak disukai oleh kakaknya, Lia (Mahdiyah Hirsinnuri), apalagi Lia dituntut untuk menjaga Putri sejak orangtua mereka meninggal dunia.
Erotomania 
is a type of delusionin which the affected person believes that another person,usually a stranger, high-status or famous person, is in love with them.

tag: +Syifa putri lestari as Director. +syifa fauziah as Cameramen & Editor. +Lucia Asri as Property & etc.
thankyou<3

Sunday, July 05, 2015

Tong Sampah

Saya sering mendengar orang-orang menyerukan "buanglah sampah di tong sampah".

Saya tidak keberatan sama sekali dengan pendapat untuk membuang sampah di tong sampah, justru saya hanya ingin menyeleksi kembali tong sampah yang seperti apa yang tepat untuk menyimpan sampah?

Kadang saya khawatir dengan orang-orang yang membuang sampah pada tong sampah pilihannya, Apa mereka tidak merasa takut kalau tong tersebut mempunyai lubang di beberapa sisinya yang bisa membuat baunya tersebar?

Ah saran saya lebih berhati-hati saja sih dalam membuang sampah yang memang sudah tidak berguna, alih-alih berniat membuang secara permanen, malah dijadikan barang daur ulang yang sangat berbeda dari sampah sebelumnya oleh penemunya :-)

Wednesday, July 01, 2015

How to spell F.R.I.E.N.D

Baru Sebulan yang lalu aku merayakan ulangtahunku yang ke tujuh belas, dan kamu juga akan merayakannya dua bulan lagi. Baru beberapa minggu yang lalu aku menerima KTP, tapi minggu ini kamu punya Buku Nikah. Beginikah jalannya?

Aku ingat waktu kamu mengalami menstruasi pertama di kelas 2 SMP, padahal aku sudah lebih dulu di kelas 1 SMP. Aku ingat waktu pertama kamu berpacaran, yaitu dengan laki-laki yang sering kuceritakan padamu waktu itu. Aku ingat waktu memperkenalkan sepupuku denganmu, yang pada akhirnya kalian lebih akrab dibanding aku.

Hampir dua tahun kita tidak pernah bertemu, hanya saling bertegur sapa di sosial media. Terakhir kita berbincang yang kutahu kamu sudah beberapa kali pacaran dan saat ini berpacaran dengan kakak kelasmu. Terakhir kita berbincang tanggal jadian kita dengan pacar kita sama. Sampai akhirnya aku tahu kabar kamu akan segera menikah.

Aku selalu ingat impianmu, kamu ingin jadi dokter. Aku selalu ingat impian kita, ingin tinggal di komplek yang sama agar bisa berbagi resep masakan untuk keluarga baru kita nanti. Bisakah segalanya terwujud?

"Eh, Jehan..." sapamu dari balik pintu setelah beberapa menit aku menunggu. Aku ingat bagaimana postur tubuhmu ketika terakhir kita bertemu, aku akan selalu lebih gendut dibanding kamu, tapi kali ini berbeda.

Kita berbincang lagi, aku tidak berani membahas bagaimana hidupmu juga hidup janin yang ada dirahimmu, aku hanya membahas masa SMP kita, tapi justru hal tersebut membuatmu semakin sedih. "Gue jadi kangen yang dulu-dulu, An. Bisa gak ya kita kayak dulu lagi?" Aku hanya mengangguk pelan.

//Happy Birthday My Dearest Bestfriend & your Son.
I wish nothing but the best for you and your little family..
throw back into May 6th 2011.

Tuesday, June 02, 2015

In a Flirtationship

Coba hitung sudah berapa lama kita bersama, sudah berapa lembar cerita jika kutuliskan satu per satu?

Tapi kita apa, masih bukan apa-apa, kan?
Dan kamu pelan-pelan mundur setelah membiarkanku maju.

Pada minggu malam itu aku sudah tidak tahan dengan celoteh nakalmu, kamu seperti ingin aku, aku pun begitu. Kamu hampir menyatakannya, tapi kemudian kamu lebih ingin bertemu terlebih dahulu.

Aku menunggu. Tapi aku lupa kalau senin mampu mengendalikan waktu. Waktu berputar sangat cepat sampai kita tidak sempat bertemu, sama sekali.

Setelah itu dua kali kamu mengirimi pesan saat aku sudah terlelap, jadi kamis pagi ini kupakai baju yang pernah kamu anggap cantik, dengan harapan pernyataan yang sudah lama kutunggu itu bisa terealisasi dengan baju terbaik. Tapi ternyata belum ditakdirkan begitu.

Aku tidak menyerah, pada Jumat sore aku sengaja duduk tidak jauh didekatmu. Kamu sibuk dengan ponselmu. Aku menaikan volume suaraku agar bisa mengalihkan perhatianmu atau menyadari keberadaanku kemudian menoleh dan menyapaku, setidaknya begitu. Tapi dua jam berlalu tidak ada reaksi dari kamu sampai akhirnya aku berlalu dibelakangmu, pulang tanpa membawa kisah apa-apa.

Kubaca kembali percakapan kita, "kegeerankah aku?"

Setelah itu tidak ada kabar dari kamu, sedangkan aku mana berani memulainya. Padahal aku menunggu dan membaca percakapan kita sampai hanyut kembali kedalamnya. Jadi kuputuskan untuk membuang egoku dan segera memulai kembali percakapan kita, mungkin ini giliranku.

Tapi semuanya sia-sia, kamu malah bersikap seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa.

Haha. Lucu sekali permainanmu. Bagaimana caranya seperti itu?

Thursday, May 14, 2015

Kisah Pertama

Sudah beberapa hari ini gadis yang akan segera melepas seragam putih-merahnya dirundung gelisah, belum pernah ia merasa sepenasaran ini terhadap lawan jenisnya. Gadis itu mengenal laki-laki yang menjadi teman sekelasnya sejak dua tahun lalu, waktu itu mereka mendapat giliran duduk bersama dan saling berbagi cerita sampai ditemukannya titik nyaman diantara keduanya. Mereka jadi sering menghabiskan waktu berdua. Mereka bilang mereka bersahabat, tapi ada rasa ingin memiliki lebih dari sekedar sahabat, katanya.

Saat gadis kecil itu bertanya pada teman sebayanya, ‘perasaan nyaman apa ini’, dengan polosnya gadis yang menjadi temannya menjawab, “itu berarti lu cinta sama dia dan kalian harus pacaran”.

Gadis itu bingung, sudah cukupkah umurnya untuk berpacaran? Lalu gadis itu bertanya pada ibunya dan jawabannya sesuai dugaannya, “Anak kecil pacar-pacaran, belajar dulu sana!”

“Kata mama gue, gue gak boleh pacaran katanya masih kecil” gadis itu tertunduk sedih mencurahkan perasaannya pada teman karibnya itu. Temannya sudah pasti merasa iba dan selalu ada dipihaknya, “yaudah kalian pacarannya jangan bilang siapa-siapa”. Senyum gadis itu mulai terbit setelah seharian mendung, “Caranya pacaran gimana?”. Keduanya tertegun.

Pikiran dua bocah itu malah semakin semrawut diantara pikiran-pikiran kusut ujian pra-Ujian Nasional, dan pikiran yang menambah kekusutannya adalah pikiran yang belum saatnya mereka pikirkan.

Suatu malam, saat gadis kecil itu berusaha mencerna ilmu pelajaran tiba-tiba temannya mengirimi SMS membuyarkan ilmu yang mestinya tersimpan. “Gue udah nanya sama dia, katanya dia mau lo nembak dia, nanti kalian pacaran deh” Gadis itu melongo membaca SMS dari temannya, masak iya cewek nembak cowok. Lalu ia malah meliburkan kegiatan belajarnya malam ini, dan asyik membayangkan bagaimana jadinya kalau mereka benar-benar berpacaran.

Entah apa gunanya memikirkan segala khayalannya. Belum tentu yang mereka gembar-gemborkan akan menjadi milik mereka seutuhnya dikemudian hari. Sayangnya tak ada yang mengetahui dan melarangnya, biarpun akan jadi pengalamannya tapi kisah yang seperti ini sudah seharusnya jangan sampai terjadi pada gadis-gadis seusianya.

Back to 140507

Saturday, May 09, 2015

Titik Temu

Malam inipun percakapan kita terputus begitu saja dengan tertidurnya kamu. Ya sudah, mungkin kamu lelah.

Aku mencoba mengerti dengan segala rutinitas padatmu, tetap konsisten mengingatkan makanmu, menyuruhmu beristirahat meskipun kamu berdalih kamu bisa menjaga tubuhmu. Akhir-akhir ini semuanya tentang kamu, tidak ada lagi tentang aku, sedang apakah aku, bagaimana hariku. Aku paham segala ambisimu, jadi aku tidak ingin mengacaukannya.

Tapi minggu ini berbeda, lambat laun segala pengertian dan perhatianku dirasa percuma dengan terlibatnya emosimu diantara percakapan basi kita, minggu ini semakin berbeda dengan timbal balik yang kudapat justru bukan dari kamu.

Setiap pikiranku tergelitik dengan pengkhianatanku, tiba-tiba aku teringat janji kita kemudian menepis segalanya dan kamu penuh dipikiranku. Kamu selalu memadati pikiranku di antara aktifitasku, terutama bagian saat kita tertawa. Lalu aku tertawa sendiri.

Aku ingat bagaimana kamu ingin aku, waktu dan materi jadi korbannya, kendaraanmu jadi saksinya. Dari aku yang angkuh, mulai tersenyum malu, manggut-manggut, hingga akhirnya aku jemu. Tidak ada lagi upaya meyakinkanku seperti dulu. Aku sendiri tidak tau bagaimana memperjuangkanmu.

Jika ada yang salah dengan kita katakan saja, walaupun aku tidak bisa apa-apa setidaknya aku tahu kamu tidak apa-apa.

Dari aku yang menyelipkan kamu didoaku.

Friday, May 01, 2015

Membuka Kotak Pandora

Selamat malam, saya punya cerita yang hampir tidak terungkap, dan malam ini akan saya ceritakan. Mungkin akan jadi cerita yang panjang, jadi siapkan saja cemilannya.

Cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan saya, tapi berantai dengan sendirinya di ruang lingkup mereka, saya hanya sebagai saksi, saksi bisu lebih tepatnya. Hanya mendengarkan, hanya menyaksikan, tidak bisa berbuat apa-apa.

Cerita dimulai dengan persahabatan saya dengan Sara waktu SD, dan bagaimana akrabnya persahabatan saya dengan Rena di SMP. Cerita ini berlatar sewaktu saya SMA dimana waktu itu saya cukup akrab dengan senior saya bernama Sammy, akrab sebagai penengah cerita di antara Sara, Rena, dan Sammy.

Saya terlebih dahulu mendengar cerita Rena yang mulai “dekat” dengan Sammy. Saya menjadi pendengar setia keluh-kesahnya tentang Sammy. Tapi Sammy mengulur saja.

Karena Sammy berprinsip untuk tidak berhubungan dengan siapapun. Walaupun saya tau dalam hati ia memendam rasa untuk Rena, juga untuk Sara.

Beberapa kali saya mendengar cerita tentang Sara dan Sammy, sampai akhirnya Sara malah berpaling ke Bert, sahabat Sammy. Dan saya hampir tidak pernah tau bagaimana perasaan Bert.

Mereka berantai begitu saja. Rena menyukai Sammy, Sammy menyukai Rena. Sara menyukai Sammy, Sammy menyukai Sara. Lalu Sara menyukai Bert. Begitu intinya jika diperjelas.

Sampai akhirnya Rena menyerah dan menyibukkan diri. Sampai akhirnya Sara menyerah dan mencari yang lebih baik lagi.

Hari ini tepat empat tahun cerita mereka masih tertutup rapat, dibiarkan terkunci.

Rena sudah jadi orang hebat sekarang, hampir tidak ada waktu untuk kita bertegur sapa, membuat janji pun belum tentu akan terealisasi. Rena masih sendiri, padahal banyak hati yang berusaha memenangkannya.

Sara benar-benar menemukan orang lain yang menurutnya lebih baik dan menganggap masa lalu adalah masa lalu.

Bert masih sama, menebak emosinya saja saya tidak bisa.

Sammy? Justru mempertanyakannya setelah empat tahun kisah ini ada.

Jadi bagaimana? Biarkan terkunci atau kita buka saja perlahan-lahan?

Friday, April 03, 2015

Page 93 of 365

Untuk kedua puluh kalinya aku membuka lembar halaman ke-93 di antara 365 halaman, mungkin memang tidak selalu 365, tapi kira-kira begitu. Judulnya Jumat, 3 April 2015.

Cerita dibuka dengan bagaimana ucapan bersahut-sahutan dengan segala macam doa terbaik. Gadis yang menerima ucapan hanya bisa tersipu malu dan berucap syukur, “aaaamiiin, terimakasih”. Selain mengamini doa yang keluarga dan teman-temannya berikan, Banyak juga doa yang Ia panjatkan semoga bisa terkabul, terutama untuk masa depannya.

Ia tak mengetahui persis bagaimana kejadian dua puluh tahun yang lalu terutama pada jam 17:55, tapi ia yakin 100% kalau ada sepasang suami-istri yang tengah berbahagia waktu itu dan menamai bayi perempuan pertamanya dengan nama yang berarti “Sanjungan Untuk Bunga yang Cantik”.

\\Happy Birthday to Me…
Terimakasih telah memberiku hidup selama dua puluh tahun ini ya Allah,
semoga kehidupan yang Engkau berikan bisa berguna untuk setiap orang yang mengenalku dan menyayangiku, terutama orangtuaku.
Aaaamiiin.

Saturday, March 28, 2015

Kolam Renang Buatan

Tiga gadis kecil itu tertawa riang menatap satu sama lain, mereka membayangkan rencana mereka sore nanti akan berjalan dengan sempurna. Mereka berusia tujuh, tujuh, dan lima. Yang berusia tujuhlah yang merencanakan semua ini, mereka berdua memang selalu kompak, sementara yang berusia lima justru paling bahagia saat diberitahu rencana nakal tersebut. "Jangan bilang siapa-siapa" ancam kedua anak berusia tujuh pada anak berusia lima.

Hubungan di antara mereka adalah sepupu, sebut saja mereka Ai, Vinna, dan Ean. Ketiganya perempuan. Kedua orangtua mereka sibuk bekerja sehingga setiap hari mereka menghabiskan hari dirumah kakek-nenek. Rumah kakek-nenek mereka memang terbilang besar, dibagian depan rumah malah dibuat sebuah toko bunga. Dan bagian rumah yang akan mereka tuju adalah kamar mandi.

Kamar mandi rumah kakek-nenek terdapat sebuah kolam penampungan air yang besar, yang mirip dengan kolam berenang, mereka bertiga penasaran ingin berenang didalamnya, walaupun minggu lalu mereka sudah mengunjungi kolam wisata air, justru mereka jadi ketagihan ingin berenang lagi, di kolam yang berbeda.

Ai memeriksa air kamar mandi, setelah airnya ia rasa cukup ia segera menyuruh Ean untuk mengambil sebuah bangku kecil agar mereka bisa masuk ke dalam kolam itu. Ketinggian air mencapai pinggang Ai dan Vinna, dan mencapai dada Ean. Mereka bertiga bergembira mengecipakan air satu sama lain.

Awalnya tidak ada yang curiga dengan apa yang mereka lakukan sampai akhirnya suara adzan maghrib mulai berkumandang dan mereka bertiga belum juga keluar dari kolam. Ibu Ean mengetuk pintu beberapa kali, sebenarnya mereka bisa saja keluar saat Ibu Ean belum terdengar marah, tapi bagaimana jadinya kalau mereka menyisakan keadaan air yang sangat keruh karena Vinna dan Ean memakai sampo didalam air. Ai dan Vinna segera menguras air yang keruh itu agar tidak ketahuan.

Tiba-tiba engsel pintu yang mulai rapuh itu copot dan pintu terbuka. “KALIAN NGAPAIIIIIIN?” Ibu Ean masuk dan agak terpeleset sedikit di lantai yang sangat licin karena ulah mereka, “LANTAI SAMPAI LICIN BEGINI, AYO KELUAR NANTI MASUK ANGIN”

Mereka bertiga mulai menangis sambil mengeringkan badannya, Ibu Ean akhirnya tau apa yang mereka lakukan, sama seperti yang pernah ia dan kedua kakaknya lakukan dulu. Entah ia ingin memarahi tiga bocah ini atau membiarkannya saja, seingatnya, ayahnya waktu itu marah besar dan baru ia sadari kalau permainan yang pernah dilakukannya memang membahayakan, tapi sangat menyenangkan.

Kemudian Ibu Ean tersenyum, ’biar sajalah, biar jadi cerita masa kecil mereka’ katanya dalam hati sambil mengusap minyak penghangat tubuh ketiganya yang masih menangis sesenggukan, “Udah jangan menangis, gak apa-apa, tapi yang kalian lakuin itu bahaya, kalian bisa saja jatuh terpeleset, kalian mau berenang? Kan minggu lalu udah berenang? Air, sabun dan sampo kalian buang percuma, itu namanya pemborosan”

Setelah itu ketiganya mulai tertawa lagi entah apa sebabnya.

Masa kecil memang indah, ya?

Saturday, March 14, 2015

Menempati Posisinya

Hari ini aku menemanimu melepas penat, berkeliling memandang langit juga merasakan tiupan angin.

Selama diperjalanan, satu per satu cerita kamu tuturkan tentang dia. Kamu mengingat semuanya. Seluruhnya tidak berurutan, tapi tergambar jelas betapa kamu mengenangnya, sampai aku bisa membayangkannya dengan jelas bagaimana kronologinya.

Semuanya tentang dia yang kamu sayangi. Kamu bilang dia juaranya. Dia sempurna.

Kamu menyebutkan hobby-nya. Kamu menceritakan soal makanan kesukaannya; bagaimana seleranya soal makanan tertentu, dan apa yang ia pilih pada menu minuman. Kemudian kamu menuturkan tentang pakaian dan aksesori yang biasa dipakainya. Sebegitu detail ingatanmu tentang dia, padahal kamu bilang kamu benci pelajaran Sejarah.

Setelah berkeliling ibukota tanpa arah kamu menyebutkan tempat-tempat yang biasa kalian datangi, juga ada cerita apa saja didalamnya.

Kadang kamu bertanya soal aku, kemudian aku juga bercerita tentangku dan kehidupanku, tapi ditengah ceritaku ternyata beberapa serupa dengan cerita kalian, jadi kamu akan bercerita lagi soal dia.

Kalau saja perempuan itu aku, ya?

Hehehe, aku tidak apa-apa mendengar kisahmu.

Iya aku tidak apa-apa, justru aku semakin ingin kamu, aku jadi berandai kalau suatu hari kamu bisa meyayangiku mungkin aku bisa diperlakukan seperti ini, begitu kan?

Eh tapi, mana mungkin.
Semua tak sama, kan ya?

Thursday, February 26, 2015

Status: Available

Kita hampir tidak pernah bertemu setelah hari itu, aku masih ingat bagaimana wajah lusuhmu masuk kedalam mobil yang akan membawa kita terpisah sejauh ini. Aku tidak sempat menemuimu. Bukan tidak sempat maksudku, hanya saja siapa aku waktu itu.

Kuberikan segala perhatianku melebihi batas kebutuhanmu. Mungkin rasanya seperti menaburkan gula setengah gelas di segelas teh, terlalu manis. Mungkin karena aku pernah kehilangan karena ketidakpedulianku, jadi aku tidak ingin terjadi pada kamu. Aku hanya ingin kamu, utuh.

Tiap hari dimana ada waktu aku bermimpi tentangmu aku berangan bagaimana jika kita bertemu nanti. Apa kata pertama yang akan kukatakan. Bagaimana ekspresiku saat itu. Apa tanggapanmu.

Sudah hampir tiga minggu tidak ada kabar darimu. Terakhir percakapan kita terasa hambar, padahal aku berupaya memperjuangkanmu. Aku berusaha menarik talinya, tapi kamu mengulur saja, jadi aku diam menunggu kamu menarikku, tapi tidak ada respon sama sekali. Tali nya diam, merenggang.

Aku masih belum menyerah, jadi aku menemui mereka yang mengetahui ceritamu, tapi tanggapannya hanya begitu, aku bisa apa.

Kemudian kutemukan kontak barumu. Pantas saja tak ada kabar dari kamu, tapi masa iya sebegitu susahnya mengabariku sedikit saja tentang kontak barumu?

Hahaha. Aku tertawa geli.
Statusmu berganti dengan nama seseorang yang tidak kuketahui, lalu aku apa? Sampah?

2009.

Friday, February 20, 2015

Almost Is Never Enough

Anggaplah aku hanya mengenang tahun lalu, tanpa mengharapkan kisah apa-apa. Karena hanya dengan mengenang separuhnya, biusan amnesiaku terhadapmu bisa teratasi.

Kenangan kamu hanya tentang permulaan, aku melupakan bagaimana akhirnya, dan akan selalu melupakan setiap akhir cerita yang tidak bahagia.

Kita dimulai oleh kamu yang menginginkanku saat aku masih angkuh. Tapi kamu punya taktik kemudian melumpuhkan pertahananku. Aku terbelenggu lalu ditangkap paksa terkurung dipenjaramu, asal kamu tau, justru aku menikmati rasa penjara itu.

Kita selalu dimulai dengan senja. Hampir empat senja pernah ada cerita kita. Hahaha, padahal hanya ada empat senja tapi mengapa kehangatanmu sungguh terasa? Waktu itu kita bercanda, tertawa, bernyanyi bersama ditengah macetnya ibukota diiringi klakson bersorak-sorai, tapi kita bahagia, kita kah? atau aku saja?

Demi tuhan aku sudah mengikhlaskan kisah kita, mengikhlaskan sekali lagi kisah pilu yang tidak pernah kuingini tapi malam ini lagu yang biasa kita perdengarkan terputar tanpa sengaja, rasanya seperti kamu saja penyanyinya, tapi itu dulu. Dulu.

Kusudahi acara mengenangmu dini hari ini, kurasa susunan kata ini mampu mewakilkan peluruhan segala angan yang dulu kita impikan, aku sudah ikhlas, aku sudah bahagia;kamu pun begitu, jadi biarkan kita bahagia masing-masing tanpa saling mengganggu satu sama lain.

Hey Je, don't make it bad!
Take a sad song and make it better
Remember to let him into your heart
Then you can start to make it better :-)

Saturday, January 10, 2015

Anjing Menggonggong

Ada kala nya di hidup kita sebagai kafilah akan bertemu anjing.

Ada anjing yang menggonggong dibelakang, ada juga yang didepan.
Gonggongan yang terjadi dibelakang biasanya merupakan obrolan santai sesama anjing, mereka seperti berteriak meronta sesuatu tapi mereka tidak bisa apa-apa, karena mereka hanya seekor anjing. Sedangkan gonggongan yang terjadi secara terang-terangan biasanya dilakukan oleh anjing yang tidak punya malu, ingin diperhatikan, ingin diberi makan, ingin dimanjakan. Sungguh prihatin nasib anjing-anjing ini apalagi kafilah tersebut tidak menggubris.

Satu waktu ada juga anjing baik yang menggonggong dengan maksud memberi tahu sesuatu pada kafilah, dengan begitu tidak ada kesalahpahaman yang terjadi sehingga justru mereka bisa berteman.

Tapi kafilah pun ragamnya berbeda.

Ada yang pengalaman perjalanannya masih minim, jadi akan terganggu dengan gonggongan anjing ditengah terik matahari. Kafilah yang seperti itu biasanya akan mudah terpancing amarahnya kemudian mengajak duel anjing. Ia lupa kalau mereka tetaplah anjing, gonggongannya akan terdengar oleh kubu anjing lainnya. Ia lupa kalau ia berlaku seperti anjing, cepat atau lambat itu akan merubahnya menjadi anjing.
Jadi anda kafilah atau anjing?

Saya berharap ada dibarisan kafilah yang penuh pengalaman. Tetap jalan teratur sesuai lajur yang saya tuju tanpa menoleh sedikitpun ke arah anjing kelaparan. Saya sadar saya bukan anjing, saya kafilah yang tetap bersikukuh ingin sampai tujuan dengan selamat, meskipun jumlah kafilah dan anjing berbanding terbalik tapi saya akan tetap bersikeras berjalan lurus memandang kedepan menggapai apa yang saya cita-citakan.

Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Thursday, January 01, 2015

Re(without)solution

Selamat siang, selamat berpijak pada semangat baru.

Sebuah resolusi patutnya menjadikan para perencananya menjadi disiplin dengan rencana yang mereka putuskan, namun tidak semudah itu, "man purpose god dispose" katanya, tapi selama masih bisa dikerjakan dengan mengabaikan kata 'ma-ger' sepertinya resolusi bisa dipersepsikan sebagai tuntutan agar menjadi lebih baik.

Semua orang ingin lebih baik di tahun yang baru, bukan?

Ini blog lama yang saya daur-ulang, kenapa? karena ingin menjadi pribadi lebih baik dengan postingan yang tentunya lebih baik lagi. tak ada caci maki, tak ada sumpah serapah. Saya berjanji. Mungkin terdengar lebih sendu dan mendayu-dayu tapi biar sajalah toh saya tidak berubah jadi orang lain juga, kan?

Beberapa sudah mengenal saya, beberapa belum, tapi mulai posting hari ini kita akan berkenalan secara bertahap.

Salam kenal!